Halo Omnirankers!
Di post ini, kita akan membahas semua update yang terjadi selama bulan September 2026 agar Anda bisa selalu di depan dari competitor.
SEO Recap September 2026
- AI visibility menjadi layer tambahan baru untuk search marketing: Minat terhadap tools untuk memantau AI visibility meningkat, sehingga kombinasi ranking di Google search dan muncul di AI search akan membuat bisnis Anda dominasi.
- Third-party mention menjadi sinyal yang menarik untuk diuji: Dua eksperimen GEO menemukan sebagian besar citation berasal dari listicle dan content di website pihak ketiga.
- AI mempercepat produksi, tapi editorial quality tetap menentukan: Konten yang kuat tetap membutuhkan riset, bukti, pengalaman, fact-checking, dan penilaian dari manusia.
- Technical SEO berkembang menjadi AI readiness: Schema Markup, semantic HTML, server-rendered content, sitemap, dan pengaturan akses crawler membantu mesin menemukan sekaligus memahami informasi website.
- Tracking Traffic untuk Conversion: Penurunan click-through rate pada query informasional tidak selalu berarti leads dan conversion ikut turun. Search intent dan kualitas traffic semakin penting.
- AI visibility membutuhkan KPI baru: Brand mention, citation, AI Share of Voice, sentiment, dan AI referral perlu dipantau bersama conversion, qualified leads, pipeline, serta revenue.
- SEO dan GEO perlu dijalankan bersamaan: Technical SEO, content update, internal linking, dan link building tetap menjadi fondasi. GEO sebagai layer tambahan untuk memperluas visibility brand di AI Search.
GEO, AEO, dan AI Visibility Mulai Menjadi Layer Tambahan Baru dalam Search Marketing

Beberapa tahun lalu, GEO dan AEO masih terdengar seperti istilah yang hanya dibahas sesama praktisi. Sekarang kondisinya mulai berbeda. Search volume menunjukkan bisnis mulai aktif mencari cara untuk mengukur dan meningkatkan visibility mereka di jawaban AI.
Laporan Ahrefs pada September 2026 memperlihatkan kenaikan minat pencarian di Amerika Serikat untuk beberapa istilah berikut:
- “AI visibility tools” meningkat 266% secara year-on-year.
- “AI visibility tracker” meningkat 156%.
- “AI visibility” meningkat 145%.
- “Generative engine optimization” meningkat 84%.
- “LLM visibility” meningkat 126%.

Ranking di Google, technical SEO yang bagus, content yang ada added value, internal linking, dan backlink menjadi fondasi yang membuat sebuah brand mempunyai alasan yang kuat untuk dikutip oleh AI Search.

Calon pelanggan kini bisa menemukan sebuah brand melalui beberapa jalur:
- Ranking organik di Google.
- Google AI Overview atau AI Mode.
- Rekomendasi brand dari ChatGPT, Gemini, Claude.
- Artikel perbandingan, review, media, forum, dan website pihak ketiga.
- Pencarian branded setelah pengguna lebih dahulu mengenal brand dari jawaban AI.
Karena itu, posisi ranking tetap perlu dipantau bersama beberapa pertanyaan tambahan:
- Apakah brand saya disebut ketika calon pelanggan meminta rekomendasi?
- Kompetitor mana yang lebih sering direkomendasikan AI?
- Apakah informasi tentang produk, harga, lokasi, dan keunggulan brand saya sudah konsisten?
- Apakah AI menggambarkan brand saya secara positif dan akurat?
Bagi pemilik bisnis, ini adalah peluang. Banyak kategori bisnis di Indonesia belum mempunyai satu brand yang benar-benar dominan di AI Search. Brand yang mulai membangun topical authority dan authority link building dari sekarang punya kesempatan untuk membentuk persepsi AI dan menang lebih awal.
Dua Eksperimen GEO Menunjukkan Behavior AI dalam Memberikan Jawaban

Search Engine Land membagikan hasil dari dua eksperimen GEO. Dalam eksperimen tersebut, peneliti memantau 15 keyword dengan intent komersial di beberapa platform AI dan mencatat 775 kemunculan sumber atau citation.
Pada eksperimen pertama, 72,4% citation berasal dari artikel listicle dan 24,1% berasal dari Digital PR. Sisanya datang dari guest post, website milik brand sendiri, dan LinkedIn. Bagi saya, temuan ini menarik karena masing-masing format memberi konteks yang berbeda kepada search engine dan AI:
- Listicle membantu AI memahami posisi brand di dalam sebuah kategori. Misalnya, sebuah brand muncul dalam artikel “10 software akuntansi terbaik”, AI mendapatkan konteks tentang siapa kompetitornya, kategori produknya, dan dalam kondisi apa brand tersebut layak dipertimbangkan.
- Publikasi PR membantu memperkuat informasi brand dari sumber lain.
- Guest post memperluas informasi yang menghubungkan brand dengan topik yang relevan.
Eksperimen kedua menunjukkan pola yang cukup menarik. Sebanyak 85,8% source mentions datang dari listicle milik pihak ketiga, sementara listicle yang diterbitkan oleh website sendiri menyumbang sekitar 14%.
Namun bukan berarti isi di website kita tidak penting ya.
Informasi di website sendiri tetap sangat penting sebagai fondasi utama untuk memastikan informasi tentang brand dan produk akurat, dengan sumber eksternal yang membahas brand kita berfungsi untuk memperkuat konteksnya.
Beberapa temuan lain dari eksperimen ini yang actionable:
- Buat comparison article antar brand atau antar jenis produk dengan isi yang jelas. Jelaskan siapa yang cocok menggunakan masing-masing pilihan dan apa perbedaannya. Konten seperti ini lebih berguna untuk user sekaligus lebih mudah dipahami mesin.
- Sampaikan jawaban utama secepat mungkin. Usahakan berikan jawaban dalam 100 kata pertama supaya pembaca maupun mesin tidak perlu baca terlalu jauh untuk memahami poin utamanya.
- Gunakan heading yang menjawab bentuk pertanyaan pengguna. Struktur seperti ini membantu setiap bagian menjawab prompt secara lebih langsung dan membuat konteks halaman lebih mudah dipahami.
- Pastikan setiap section tetap masuk akal walaupun dibaca terpisah. Jangan terlalu bergantung pada paragraf sebelumnya untuk menjelaskan konteks dasar. Setiap bagian sebaiknya punya informasi yang cukup untuk berdiri sendiri.
- Jangan menyembunyikan semua FAQ penting di dalam accordion. Pertanyaan dan jawaban yang paling penting sebaiknya tetap terlihat jelas di halaman agar lebih mudah ditemukan dan dipahami.
- Jaga informasi tetap fresh. Update data, tanggal publikasi, contoh, dan referensi secara berkala supaya halaman tidak kehilangan relevansi.
- Pantau citation dalam beberapa minggu setelah publikasi. Jangan hanya mengecek sekali lalu menganggap hasilnya permanen, karena sumber yang digunakan AI bisa berubah dari waktu ke waktu.
AI Bisa Mempercepat Produksi Konten, tetapi Editorial Value Tetap Menentukan

Ahrefs sendiri menjelaskan bahwa AI dipakai dalam proses produksi artikel mereka.
Masalahnya muncul ketika AI dipakai bukan untuk generate ideas dan outline, melainkan langsung “plek ketiplek” di copy paste isi nya tanpa editorial. Jika seperti ini, maka content yang dihasilkan tidak menambahkan value baru.
Konten baru benar-benar punya value ketika manusia tetap mengerjakan bagian yang paling sulit:
- Mencari topik lebih dalam, bukan cuma merangkum informasi yang sudah ada.
- Memeriksa ulang klaim, angka, dan data sebelum dipublikasikan.
- Menambahkan pengalaman langsung ke dalam artikel.
- Menentukan insight mana yang penting buat pembaca.
- Menambahkan sudut pandang dan analisis yang original.
- Melakukan final review untuk memastikan isi, alur, dan faktanya sudah layak dipublikasikan.
Workflow AI Content yang Tetap Menjaga Riset dan Editorial Quality
Menurut saya, AI paling berguna ketika dipakai untuk mempercepat pekerjaan repetitif: mengelompokkan data, merangkum transkrip internal, mencari pola, membuat beberapa alternatif outline, atau membantu quality check awal.
Waktu yang berhasil dihemat sebaiknya dialihkan ke bagian yang memang sulit diotomatisasi dan justru menjadi pembeda kualitas, seperti:
- Wawancara dengan subject-matter expert untuk mendapatkan insight yang tidak bisa ditemukan hanya dari hasil pencarian.
- Mengumpulkan data internal dari pengalaman bisnis sendiri.
- Menambahkan screenshot dan contoh yang benar-benar sudah dilakukan.
- Melakukan fact-checking langsung ke sumber utama.
- Menambahkan perspektif lokal yang sering tidak dibahas di artikel global.
Di sinilah bisnis Indonesia punya peluang besar. Pengalaman lokal seperti kondisi pasar, regulasi, harga, proses pembelian, hambatan operasional, sampai studi kasus klien bisa menjadi pembeda yang kuat.
Konten seperti ini akan lebih berguna dibanding artikel yang hanya merangkum sumber global tanpa menambahkan konteks Indonesia.
Kalau kebutuhan Anda adalah produksi content SEO dalam skala lebih konsisten, Omni Content dapat digunakan untuk artikel blog, guest post, landing page, dan supporting content yang tetap disusun berdasarkan kebutuhan keyword dan halaman target.
Technical SEO Berkembang dari Crawlability ke AI Readiness

Search Engine Journal mengaudit 50 website besar dari industri retail, SaaS, travel, publishing, dan finance. Temuannya sederhana tapi penting: website yang mudah dicrawl belum tentu mudah dipahami konteksnya oleh AI.
Rata-rata skor retrievability mencapai 74,4%. Artinya, secara teknis banyak website sudah cukup baik dalam hal akses dasar seperti robots.txt, sitemap, semantic HTML, server-rendered content, dan struktur halaman.
Tapi ketika masuk ke attribution and meaning, rata-rata skornya hanya 38,5%.
Schema Markup Membantu Menjelaskan Entity dan Hubungan Antar-Informasi
Dari 50 website yang diaudit, 35 website atau sekitar 70% terdeteksi sudah menggunakan JSON-LD structured data di homepage. Artinya, hampir sepertiganya masih belum menggunakan structured data pada halaman utama.
Schema Markup membantu mesin mendapatkan konteks yang lebih lengkap. Bukan cuma membaca teks, tetapi memahami bahwa:
- ini adalah sebuah produk;
- produk ini dimiliki atau dijual oleh brand tertentu;
- ini harga dan mata uangnya;
- ini organisasi beserta lokasi resminya;
- artikel ini ditulis atau direview oleh orang tertentu;
- dan layanan ini tersedia untuk area tertentu.
Audit AI Crawler Access Sebelum Mengubah Robots.txt atau Firewall
Pada September 2026, Cloudflare juga merilis pengaturan Disallow AI Training. Fitur ini memungkinkan pemilik website menolak penggunaan konten untuk training model tanpa otomatis memblokir crawler search seperti Googlebot, Bingbot, Applebot, atau crawler tertentu lainnya.
Ada tiga hal yang menurut saya jangan dicampuradukkan:
- Search indexing: apakah halaman boleh masuk ke hasil pencarian.
- AI search/inference: apakah crawler boleh membaca halaman untuk membantu menjawab pertanyaan pengguna.
- AI model training: apakah konten boleh digunakan untuk melatih model.
Ketiganya berbeda.
Kalau semua bot AI langsung diblokir tanpa audit, website bisa menutup akses terhadap crawler yang sebenarnya dibutuhkan.
Karena itu pastikan crawler search yang dibutuhkan tetap bisa mengakses halaman dengan HTTP status 200.
SEO dan AI Visibility Perlu Diukur dalam Satu Reporting Framework

Setelah visibility mulai terbentuk, jangan berhenti di angka citation. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: apakah visibility tersebut menghasilkan impact ke bisnis?
Semrush menyarankan supaya reporting AI visibility bisa menjawab tiga pertanyaan sederhana:
- Are we visible? Apakah brand kita muncul di Google dan platform AI?
- How do we compare? Apakah visibility kita semakin kuat dibanding kompetitor?
- Does it matter to the business? Apakah visibility tersebut akhirnya membawa traffic, leads, atau conversion?
Supaya lebih mudah dibaca, KPI-nya bisa dibagi menjadi tiga lapisan.
Tier 1: Business Impact
Ini adalah angka yang paling dekat dengan hasil bisnis:
- Qualified leads dari organic search dan AI referral.
- Conversion dari organic traffic dan AI referral.
- Traffic yang masuk ke product page, service page, pricing page, atau halaman transaksi.
Tier 2: Search Visibility dan Competitive Position
Lapisan berikutnya melihat seberapa besar brand kita terlihat di search:
- AI Share of Voice.
- Brand mentions dan citations.
- Ranking untuk keyword yang punya potensi menghasilkan leads.
- Organic Share of Voice.
- Halaman yang ranking di Google sekaligus digunakan sebagai citation oleh AI.
Tier 3: Supporting Signals yang Menjelaskan Perubahan Visibility
Terakhir, ada indikator pendukung yang membantu menjelaskan kenapa visibility bisa naik atau turun:
- Referring domains dan backlink berkualitas.
- Brand mentions di media dan website pihak ketiga.
- AI sentiment terhadap brand.
- Site Health dan accessibility untuk AI crawler.
Hanya saja, attribution dari AI sampai sekarang belum selalu terlihat dengan jelas.
Misalnya, seseorang pertama kali mengenal sebuah brand dari ChatGPT. Beberapa jam kemudian dia mengetik nama brand tersebut langsung di browser atau mencarinya lewat Google. Di analytics, kunjungan itu kemungkinan tercatat sebagai direct atau organic traffic, bukan AI referral.
Artinya, pengaruh AI bisa saja lebih besar daripada angka referral yang terlihat di GA4.
Salah satu cara sederhana untuk menangkap bagian yang hilang ini adalah menambahkan pertanyaan seperti “Dari mana Anda mengetahui kami?” di form lead. Self-reported attribution seperti ini bisa membantu melihat apakah ChatGPT, Gemini, atau platform lain ikut berperan dalam perjalanan calon pelanggan.
Yang paling penting, jangan sampai citation berhenti sebagai angka metric.
Eksperimen GEO yang dibahas sebelumnya menunjukkan bahwa sumber yang paling sering dikutip AI belum tentu menghasilkan referral traffic paling besar. Bahkan satu kunjungan dari platform dengan volume kecil bisa jauh lebih bernilai kalau akhirnya berubah menjadi customer.
Jadi pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar mendapatkan citation sebanyak mungkin. Citation dan AI visibility tetap harus dihubungkan kembali ke qualified traffic, leads, conversion, dan revenue.

Contoh pengukuran SEO dan AI visibility SEMRush dalam satu reporting flow.
Action Plan SEO dan GEO Setelah Update September 2026
Ranking Google tetap menjadi fondasi untuk mendapatkan organic traffic dan leads. AI visibility menambahkan jalur discovery baru agar brand bisa ditemukan melalui ChatGPT, Gemini, dan platform lainnya.
Jadi pertanyaannya bukan lagi “SEO atau GEO?”. Bagaimana membuat keduanya bekerja dalam satu optimasi?
Berikut action plan yang bisa mulai diterapkan.
1. Mapping Prompt Berdasarkan Customer Persona dan Buying Journey
Mulai dari 20-30 pertanyaan yang umumnya ditanyakan calon pelanggan.
Kelompokkan prompt berdasarkan tahapan buying journey, misalnya:
- Awareness: “HP apa yang kameranya bagus untuk sehari-hari?”
- Comparison: “iPhone 18 vs Samsung Galaxy S26, mana yang lebih bagus?”
- Commercial investigation: “HP terbaik di bawah Rp10 juta apa?”
- Transactional intent: “Di mana beli Samsung Galaxy S26 yang resmi dan bergaransi?”
Setelah itu, jalankan prompt di platform AI (misalnya ChatGPT) dengan browser Chrome yang baru dan akun ChatGPT yang baru.
Catat siapa saja brand yang direkomendasikan, alasan AI merekomendasikannya, sumber apa yang digunakan sebagai citation, sampai informasi mana yang masih salah atau belum lengkap.
2. Buat Content yang Mendalam dan Lengkap
Kalau kita ingin Google ranking website kita dan AI menggunakan website kita sebagai referensi, maka kita perlu buat content yang “worth it” untuk dijadikan source.
Di setiap content terdapat section yang membahas setiap subtopik dan tetap bisa dipahami meskipun mulai dibaca dari sectionnya, serta internal linking menuju page yang relevan dari website kita.
Untuk membangun pembahasan artikel yang lengkap dan menyeluruh, gunakan struktur pillar page dan supporting articles agar setiap topik saling memperkuat.
Kalau website masih kekurangan topical coverage, Topical Authority Immersion dapat digunakan untuk menyusun topical map, keyword clustering, penulisan artikel human written, SEO onpage optimization, sampai publikasi terjadwal ke WordPress.
3. Bangun Authority Website melalui Link Building
Content di moneysite tetap menjadi sumber utama yang kita pegang kendali. Dan link building yaitu kita optimasi apa yang dikatakan website lain tentang brand kita untuk membentuk konteks eksternal.
Campaign offpage mempunyai beberapa fase optimasi.
Mulai dari Core Links berupa foundation links, Power links berupa contextual homepage link, Relevance Links berupa blogger link yang relevan dengan niche kita, dan Trust Links berupa media nasional link.

Jika website Anda masih baru dan membutuhkan foundational links, maka SEO Galaxy dapat digunakan untuk build strong foundational links dengan fokus branded anchor.
Untuk Power links, Supernova X cocok untuk website yang membutuhkan tambahan homepage authority links. Hero SEO yaitu menjadi supporting boost. Pemilihannya tetap harus mengikuti kondisi website, keyword target, dan existing backlink profile.
Untuk Relevance & Trust Links berupa media nasional, blogger Indonesia, maupun website internasional, Anda dapat menggunakan Omni Authority untuk memilih publisher berdasarkan niche, metric, traffic, dan budget.

Link building bekerja paling maksimal ketika Technical SEO dan SEO onpage website kita sudah optimal juga.
4. Audit Technical SEO, Structured Data, dan AI Crawler Access
Berikut bagian yang perlu di cek di website, antara lain sebagai berikut:
- robots.txt dan sitemap;
- HTTP status;
- Isi view source HTML dan heading hierarchy;
- Schema Markup untuk Organization, LocalBusiness, Product, Service, Article, Person.
- canonical dan internal linking;
- pengaturan crawler pada CDN atau firewall.
Anda dapat mamakai Free SEO & GEO Audit Tool ini juga untuk cek kondisi website Anda saat ini,
5. Ukur AI Visibility sampai ke Leads dan Conversion.
Citation menarik untuk dipantau, tapi jangan berhenti di angka citation.
Catat kondisi awal dan perkembangannya setiap bulan untuk beberapa metrics berikut:
- Keyword ranking
- Organic Keywords
- AI Share of Voice
- Citations
- AI sentiment
- referral traffic
- qualified leads
- conversion
Tambahkan juga self-reported attribution seperti pertanyaan “Dari mana Anda mengetahui kami?” di form lead.
Dengan begitu, kita tidak mengambil keputusan hanya karena traffic naik atau turun, atau karena jumlah citation bertambah. Yang ingin kita lihat adalah apakah visibility tersebut benar-benar ikut mendorong hasil bisnis.
6. Perlakukan SEO dan GEO sebagai Ongoing Campaign, Bukan Sekali Publish
AI visibility bisa berubah cukup cepat, sama seperti ranking yang juga tidak statis.
Sumber yang digunakan AI bisa berganti, ranking berubah, data diperbarui, dan jawaban model juga ikut berubah. Karena itu, campaign sebaiknya tidak berhenti setelah link building selesai.
Jalankan prosesnya sebagai siklus:
research prompt → audit visibility gap → perbaiki content moneysite→ bangun authority dari link building → track citation dan referral → evaluasi conversion → refresh.
Lalu ulangi lagi.
Brand yang konsisten update konten, memperluas topical authority, dan link building akan lebih siap menghadapi perubahan baik di Google maupun AI Search.
Seluruh action plan ini bisa dijalankan bertahap oleh tim internal. Tapi dalam praktiknya, prosesnya membutuhkan prompt research, technical audit, content production, on-page optimization, monitoring, dan link building yang konsisten.
Kalau ingin seluruh proses tersebut dikelola dalam satu roadmap, Full Managed SEO OmniRank menggabungkan technical SEO, onpage, content, internal linking, offpage SEO, monitoring ranking, organic traffic, dan pengembangan visibility di AI Search.
Sampai jumpa di SEO Recap berikutnya!

0 Komentar