Contextual Link Building: Ultimate Link untuk SEO

oleh | 21 Sep 2026 | Basic, Glossary, Offpage SEO

Jadikan Omni Rank sumber pilihan Anda di Google
Dapatkan update SEO & AI Search terbaru.
Summarize with AI or Social Shares

Kalau saya harus memilih salah satu elemen penting dalam strategi SEO off-page, contextual link building pasti masuk ke dalam daftar teratas.

Contextual link mempunyai satu keunggulan yang sangat penting: link ditempatkan di dalam konteks pembahasan yang relevan.

Masalahnya, masih banyak pemilik website yang melihat link building hanya dari jumlah.

100 backlink dianggap lebih bagus daripada 20 backlink.

1.000 backlink dianggap lebih powerful daripada 100 backlink.

Padahal SEO tidak sesederhana itu.

Saat kami melakukan analisis campaign SEO di OmniRank, kami tidak hanya bertanya:

“Berapa backlink yang sudah dimiliki website ini?”

Kami juga melihat:

  • Dari website mana backlink tersebut berasal?
  • Apa topik halaman yang memberikan backlink?
  • Di bagian mana link ditempatkan?
  • Apa anchor text yang digunakan?
  • Ke halaman mana backlink diarahkan?
  • Apakah backlink tersebut mendukung keseluruhan link profile website?

Karena jumlah backlink hanyalah salah satu bagian dari strategi.

Yang lebih penting adalah bagaimana setiap link mempunyai fungsi yang jelas di dalam campaign SEO Anda.

Di artikel ini, kita akan fokus membahas contextual link: bagaimana cara kerjanya, bagaimana memilih sumber backlink, bagaimana mengatur anchor text, sampai bagaimana mendistribusikan authority tersebut ke halaman penting di website Anda.

Apa Itu Contextual Link dan Mengapa Penting untuk SEO?

Secara sederhana, contextual link adalah backlink yang ditempatkan secara natural di dalam isi sebuah artikel atau halaman, dengan pembahasan di sekitarnya yang relevan terhadap halaman tujuan.

Contohnya begini.

Bayangkan Anda mempunyai website yang menjual mesin kopi untuk kafe.

Kemudian sebuah website kuliner menerbitkan artikel berjudul:

“Panduan Membuka Bisnis Kafe untuk Pemula.”

Di dalam bagian yang membahas perlengkapan kafe, terdapat kalimat seperti:

“Untuk menjaga konsistensi espresso setiap hari, pemilik kafe perlu mempertimbangkan mesin kopi komersial yang sesuai dengan volume operasional bisnis.”

Anchor text “mesin kopi komersial” kemudian diarahkan ke halaman produk Anda.

Itulah contextual link.

Link tersebut bukan ditempatkan sendirian di footer, sidebar, atau halaman profile tanpa konteks.

Link hadir sebagai bagian dari informasi yang memang sedang dibutuhkan pembaca.

Dan menurut saya, di sinilah value terbesarnya.

Contextual link menghubungkan tiga hal sekaligus: topik artikel, anchor text, dan halaman tujuan.

Semakin jelas hubungan ketiganya, semakin mudah pula search engine dan pembaca memahami alasan sebuah halaman direferensikan.

Contextual Link Bukan Sekadar Menaruh Hyperlink di Dalam Artikel

Ada satu kesalahan yang cukup sering saya temukan.

Karena mendengar bahwa contextual backlink bagus untuk SEO, akhirnya semua backlink dipaksakan masuk ke dalam artikel.

Padahal belum tentu context-nya relevan.

Contohnya, website membahas tips dekorasi rumah tetapi tiba-tiba di tengah artikel terdapat backlink menuju software akuntansi.

Secara teknis memang link tersebut berada di dalam konten.

Tapi secara contextual?

Tidak nyambung.

Karena itu, ketika kami membangun link, saya lebih suka melihat contextual relevance secara bertingkat:

  1. Relevansi website atau niche.
  2. Relevansi topik artikel.
  3. Relevansi paragraf di sekitar backlink.
  4. Relevansi anchor text.
  5. Relevansi halaman tujuan.

Tidak semuanya harus selalu sempurna 100%.

Tapi semakin kuat hubungan semantiknya, semakin masuk akal pula backlink tersebut sebagai referensi bagi pembaca.

Keuntungan Contextual Link untuk SEO dan Bisnis

Saya tidak suka melihat backlink hanya sebagai angka yang muncul di Ahrefs atau SEMrush.

Backlink yang bagus idealnya mempunyai fungsi.

Fungsinya bisa untuk memperkuat authority, membantu search engine menemukan hubungan antarhalaman, memperluas brand exposure, mendatangkan referral traffic, atau mendukung ranking halaman tertentu.

1. Membantu Search Engine Memahami Konteks Halaman

Contextual backlink mempunyai informasi tambahan yang tidak dimiliki link yang berdiri sendiri.

Search engine tidak hanya menemukan URL tujuan.

Ada anchor text.

Ada kalimat sebelum dan sesudah link.

Ada topik utama dari halaman sumber.

Semua elemen tersebut membantu membangun konteks mengenai hubungan antara halaman pemberi backlink dan halaman yang menerima backlink.

Karena itu, daripada hanya mengejar jumlah link, saya lebih memilih memastikan setiap backlink mempunyai alasan yang jelas mengapa ditempatkan di sana.

Untuk campaign yang membutuhkan kombinasi contextual dan diversity links, OmniRank juga mempunyai Hero SEO yang dirancang untuk membantu membangun struktur backlink yang lebih bervariasi, sehingga strategi tidak hanya bergantung pada satu tipe link.

2. Membuka Peluang Referral Traffic

Ini bagian yang sering dilupakan ketika orang terlalu fokus ke SEO metric.

Backlink juga bisa diklik manusia.

Kembali ke contoh mesin kopi tadi.

Orang yang sedang membaca artikel tentang cara membuka kafe kemudian mengklik link menuju halaman mesin kopi mempunyai relevansi intent yang cukup tinggi.

Mereka memang sedang membaca topik yang berhubungan dengan produk Anda.

Karena itu, contextual placement pada website yang tepat mempunyai peluang memberikan value di luar ranking.

Anda juga mendapatkan exposure kepada audience yang memang mempunyai ketertarikan terhadap industri Anda.

3. Membantu Membangun Link Profile yang Lebih Lengkap

Saya tidak menyarankan membuat seluruh link profile hanya dari satu jenis backlink.

Website bisnis yang berkembang secara natural biasanya mempunyai berbagai jenis mention dan link dari berbagai sumber.

Ada editorial mention.

Ada media coverage.

Ada business citation.

Ada profile link.

Ada contextual backlink.

Untuk bisnis lokal, misalnya, contextual links bisa dikombinasikan dengan Omni Citation untuk membangun business directory listings dengan informasi NAP yang konsisten dan mendukung visibilitas lokal.

Jadi bukan soal memilih satu jenis backlink dan menganggap yang lainnya tidak berguna.

Yang penting adalah memahami fungsi masing-masing jenis link di dalam keseluruhan strategi SEO.

Relevansi Topik Lebih Penting daripada Sekadar Mengejar Metric Tinggi

Misalnya Anda mendapatkan pilihan seperti ini.

Website pertama mempunyai authority metric sangat tinggi, tetapi topiknya sama sekali tidak berhubungan dengan bisnis Anda.

Website kedua metric-nya sedikit lebih rendah, tetapi niche, audience, dan isi artikelnya sangat relevan dengan produk Anda.

Mana yang saya pilih?

Saya tidak akan menjawab hanya berdasarkan satu angka.

Kita perlu melihat keseluruhan konteksnya.

Authority metric seperti DR, DA, organic traffic, referring domains, dan data dari SEO tools tetap berguna sebagai indikator awal.

Tapi metric bukan satu-satunya faktor penentu kualitas.

Kami biasanya juga melihat:

  • Relevansi topik website.
  • Organic visibility.
  • Kualitas artikel.
  • Riwayat publikasi.
  • Kualitas outbound links.
  • Indexability.
  • Placement backlink.
  • Audience dan geographical relevance.

Contohnya untuk bisnis kesehatan lokal.

Backlink dari website kesehatan, lifestyle lokal, direktori bisnis relevan, dan media regional bisa mempunyai fungsi yang berbeda tetapi saling melengkapi.

Jika Anda memiliki bisnis jasa lokal yang melayani area tertentu, Anda juga bisa melihat bagaimana kombinasi optimasi on-page, local SEO, content, dan authority digunakan di SEO Health Clinic Case Study.

Cara Menilai Website untuk Contextual Backlink

Saya selalu menyarankan satu hal sebelum menaruh backlink.

Buka websitenya.

Jangan hanya melihat spreadsheet.

SEO tools sangat membantu untuk melakukan screening dalam jumlah besar. Tapi setelah shortlist terbentuk, manual review tetap penting.

Jangan Melihat Domain Authority atau Domain Rating Sendirian

DR, DA, Authority Score, Trust Flow, dan metric lainnya sangat membantu untuk membandingkan domain secara cepat.

Kami sendiri tetap menggunakannya dalam proses analisis.

Tapi jangan berhenti di sana.

Metric pihak ketiga sebaiknya dipakai bersama dengan data lain.

Misalnya sebuah website mempunyai DR tinggi.

Selanjutnya cek:

  • Apakah website masih mempunyai organic keyword?
  • Apakah artikel terbaru masih terindex?
  • Apakah website aktif?
  • Apakah isi artikelnya relevan dan readable?
  • Apakah niche website jelas?
  • Apakah outbound link-nya masih masuk akal?

Dengan cara ini, keputusan link building Anda tidak bergantung pada satu metric saja.

Standar Seleksi Sumber Backlink di OmniRank

Kalau saya sederhanakan, ada empat area yang biasanya kami perhatikan ketika melakukan seleksi domain.

Pertama, visibility dan history domain.

Kami melihat organic traffic, keyword visibility, referring domain, sampai trend performanya. Tujuannya bukan mencari grafik yang harus selalu naik, tetapi memahami kondisi website tersebut secara lebih lengkap.

Kedua, kualitas konten.

Buka beberapa artikel terbaru.

Apakah isinya mempunyai struktur yang jelas?

Apakah topiknya memang sesuai dengan audience website?

Apakah halaman tersebut dibuat dengan baik dan memberikan informasi yang layak dibaca?

Ketiga, outbound link profile.

Kami melihat pola external link yang sudah ada di website tersebut.

Jika sebuah website mempunyai editorial standard yang jelas dan link keluar yang masih relevan dengan isi artikelnya, secara kualitas tentu lebih menarik untuk dipertimbangkan.

Keempat, aktivitas dan indexability.

Website yang masih aktif menerbitkan content dan mempunyai halaman yang terindex dengan baik umumnya lebih menarik daripada domain yang sudah lama tidak dikelola.

Proses seperti inilah yang juga menjadi alasan mengapa platform Omni Authority tidak hanya menampilkan pilihan media nasional dan blogger berdasarkan satu metric. Relevansi, organic visibility, kualitas website, dan kebutuhan campaign tetap perlu dipertimbangkan sebelum placement.

Cara Mendapatkan Contextual Backlink melalui Guest Post

Salah satu metode paling straightforward untuk mendapatkan contextual link adalah guest posting atau content placement.

Konsepnya sederhana.

Anda menerbitkan artikel di website lain yang mempunyai audience dan topik relevan, kemudian memasukkan backlink secara contextual di dalam artikel tersebut.

Tapi kualitas eksekusinya tetap penting.

Jangan membuat artikel hanya sebagai wadah untuk memasukkan link.

Saya lebih suka pendekatan sebaliknya.

Buat artikel yang memang layak dibaca terlebih dahulu. Setelah itu, cari bagian yang secara natural membutuhkan referensi ke halaman Anda.

Misalnya Anda mempunyai bisnis asuransi kendaraan.

Anda mendapatkan kesempatan menerbitkan artikel di portal otomotif mengenai:

“Apa yang Harus Dilakukan Ketika Mobil Terendam Banjir?”

Di bagian yang membahas perlindungan kendaraan, Anda bisa menempatkan link seperti:

  • “Sebelum musim hujan, cek kembali syarat klaim asuransi mobil banjir agar Anda memahami dokumen yang perlu disiapkan.”
  • “Pemilik kendaraan juga dapat memeriksa apakah polis asuransi kendaraan all risk memiliki perluasan perlindungan yang dibutuhkan.”
  • “Sebelum memilih proteksi, bandingkan cakupan dari beberapa layanan asuransi kendaraan sesuai kebutuhan Anda.”

Link terasa sebagai bagian dari informasi.

Bukan disisipkan secara paksa.

Kalau Anda tidak ingin melakukan outreach dan negosiasi media satu per satu, Omni Authority menyediakan pilihan content placement di media nasional dan guest post blogger yang bisa dipilih berdasarkan kebutuhan campaign Anda.

Jangan Memaksakan Exact Match Anchor di Setiap Backlink

Ini juga penting.

Kalau target keyword Anda adalah:

“jasa renovasi rumah Jakarta”

bukan berarti seluruh backlink harus menggunakan anchor tersebut secara persis.

Anda bisa mempunyai variasi seperti:

  • Brand name.
  • Naked URL.
  • Partial match keyword.
  • Topical anchor.
  • Long-tail anchor.
  • Natural sentence anchor.

Tujuannya bukan sekadar membuat anchor distribution terlihat bervariasi.

Yang lebih penting adalah memilih anchor yang cocok dengan konteks kalimat dan halaman tujuan.

Membangun Editorial Backlink dari Media dan Publikasi Industri

Untuk perusahaan B2B atau brand yang bermain di competitive industry, kita juga bisa naik satu level lebih tinggi.

Bukan hanya guest post di blog niche.

Kita bisa membangun exposure melalui media nasional, portal industri, media bisnis, atau publikasi yang memang dibaca oleh target market.

Salah satu pendekatan yang saya suka adalah membuat sesuatu yang memang layak dijadikan referensi.

Contohnya:

  • Original research.
  • Industry report.
  • Survey pelanggan.
  • Market data.
  • Studi internal perusahaan.
  • Expert commentary.

Misalnya perusahaan Anda membuat laporan:

“Tren Belanja Konsumen Indonesia 2026.”

Setelah laporannya live, jangan hanya menunggu ditemukan.

Distribusikan.

Hubungi media yang memang rutin membahas industri tersebut.

Anda bisa menawarkan data, grafik, atau expert commentary sebagai bahan editorial.

Contoh outreach sederhananya seperti ini:

“Selamat siang Tim Redaksi [Nama Media],

Kami baru saja menerbitkan laporan internal mengenai Tren Belanja Konsumen Indonesia 2026. Di dalamnya terdapat beberapa data mengenai perubahan perilaku transaksi digital yang mungkin relevan dengan coverage ekonomi dan bisnis di [Nama Media].

Data dan grafik lengkap dapat dilihat melalui halaman berikut: [URL].

Silakan digunakan sebagai referensi apabila sesuai dengan agenda editorial. Jika membutuhkan data tambahan atau komentar dari tim kami, dengan senang hati kami bantu.

Terima kasih.”

Perhatikan angle-nya.

Kita tidak langsung meminta:

“Tolong kasih backlink ke website saya.”

Kita menawarkan resource yang relevan.

Jika kemudian media menggunakan data tersebut dan memberikan attribution link, backlink tersebut muncul karena halaman Anda memang menjadi sumber referensi.

Anda juga dapat melihat pendekatan SEO untuk market B2B di SEO B2B Case Study.

Distribusikan Authority Backlink dengan Internal Linking

Mendapatkan backlink bagus baru setengah pekerjaan.

Setelah itu, kita perlu melihat bagaimana halaman yang menerima backlink terhubung dengan halaman lain di website.

Contohnya backlink Anda banyak mengarah ke homepage.

Sementara halaman yang sebenarnya ingin Anda ranking-kan adalah:

  • Service page.
  • Product category.
  • Commercial landing page.
  • Location page.

Kalau halaman tersebut sulit ditemukan melalui internal link, Anda kehilangan kesempatan mendistribusikan authority dan membantu crawler memahami struktur website.

Karena itu saya biasanya melihat external link building dan internal linking sebagai satu sistem.

Bayangkan backlink adalah aliran air utama yang masuk ke rumah.

Internal linking adalah pipa yang mendistribusikan aliran tersebut ke ruangan yang membutuhkan.

Kalau semuanya berhenti di satu halaman, distribusinya tidak optimal.

Pastikan halaman yang mendapatkan external backlinks mempunyai internal link yang jelas menuju halaman penting lain yang relevan.

Content Placement yang Bagus Harus Tetap Memberikan Value

Ada banyak alasan sebuah brand melakukan content placement.

Bisa untuk SEO.

Bisa untuk branding.

Bisa untuk reputation management.

Bisa untuk memperkenalkan produk.

Bisa juga untuk menjangkau audience baru melalui media yang sudah mempunyai pembaca.

Menurut saya, kesalahan yang perlu dihindari adalah membuat artikel placement seperti brosur penjualan.

Misalnya satu artikel dari awal sampai akhir hanya berbicara:

“Kami terbaik. Produk kami nomor satu. Beli sekarang.”

Pembaca juga tidak mendapatkan value.

Lebih baik gunakan struktur:

  1. Mulai dari masalah atau pertanyaan audience.
  2. Berikan edukasi yang benar-benar berguna.
  3. Masukkan data atau contoh.
  4. Hubungkan brand sebagai salah satu solusi yang relevan.
  5. Masukkan contextual backlink pada bagian yang memang membutuhkan referensi.

Dengan pendekatan seperti ini, artikel tetap nyaman dibaca sambil tetap menjalankan fungsi branding dan SEO.

Jangan Lupakan Backlink Saat Migrasi atau Revamp Website

Ini salah satu bagian technical SEO yang menurut saya sangat penting.

Website sudah mempunyai backlink bagus selama bertahun-tahun.

Kemudian perusahaan melakukan revamp.

URL lama:

/jasa-konsultan-pajak/

diubah menjadi:

/services/tax-consulting/

Tapi URL lama langsung dihapus tanpa redirect.

Apa yang terjadi?

Backlink eksternal yang sebelumnya mengarah ke URL lama sekarang menuju halaman 404.

Karena itu, sebelum migrasi website, buat URL mapping.

Pastikan halaman lama yang mempunyai backlink atau organic visibility diarahkan ke halaman baru yang paling relevan menggunakan redirect permanen yang sesuai.

Jangan melihat backlink sebagai sesuatu yang terpisah dari technical SEO.

Backlink sudah menjadi bagian dari aset digital website Anda.

Anda dapat melihat contoh penanganannya lebih lanjut melalui Website Revamp SEO Case Study.

Apakah Ada Jumlah Backlink Ideal per Bulan?

Ini pertanyaan yang sering sekali ditanyakan.

“Mas, idealnya berapa backlink per bulan?”

Jawabannya:

Tidak ada satu angka yang cocok untuk semua website.

Website baru dengan 10 halaman tentu mempunyai kondisi berbeda dengan e-commerce berusia 10 tahun yang mempunyai puluhan ribu halaman dan ribuan referring domains.

Karena itu, saya tidak suka memakai rule seperti:

“Semua website harus mendapatkan maksimal tiga backlink setiap bulan.”

atau:

“Semakin banyak backlink semakin bagus.”

Keduanya terlalu sederhana.

Yang perlu dilihat adalah:

  • Usia dan authority website.
  • Jumlah referring domains saat ini.
  • Historical link growth.
  • Volume content yang diterbitkan.
  • Brand activity.
  • Tingkat kompetisi keyword.
  • Jenis backlink yang sedang dibangun.
  • Budget dan objective campaign.

Untuk website yang masih kecil, saya lebih memilih membangun fondasinya terlebih dahulu.

Pastikan technical SEO rapi.

Pastikan commercial pages sudah teroptimasi.

Publish supporting content.

Rapikan internal linking.

Setelah itu, link building bisa di-scale secara bertahap sesuai perkembangan website.

Jadi fokusnya bukan membuat pertumbuhan backlink terlihat lambat atau cepat.

Fokusnya adalah membuat campaign yang masuk akal terhadap kondisi website dan objective bisnis Anda.

Contextual Backlink Bukan Berarti Harus Mengabaikan Diversity Links

Saya ingin menekankan bagian ini karena sering terjadi salah persepsi.

Setelah mengetahui contextual backlink mempunyai value yang bagus, jangan kemudian menyimpulkan:

“Berarti saya hanya butuh contextual backlink.”

Tidak juga.

Link profile sebuah website biasanya jauh lebih kompleks.

Ada branded links.

Ada profile.

Ada citation.

Ada media mention.

Ada editorial link.

Ada contextual link.

Masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda.

Jadi link building sebaiknya dipikirkan sebagai sebuah portfolio.

Bukan satu produk untuk semua masalah.

Audit Backlink Lama Sebelum Menambah Backlink Baru

Ada kondisi di mana website sebenarnya sudah mempunyai ribuan backlink.

Tapi pemilik website tidak tahu backlink tersebut berasal dari mana.

Website mungkin pernah dikelola agency sebelumnya.

Domain mungkin pernah dimiliki orang lain.

Atau backlink profile sudah berkembang selama bertahun-tahun tanpa pernah diaudit.

Dalam kondisi seperti ini, sebelum terus menambah link baru, saya lebih suka mengetahui terlebih dahulu baseline backlink profile-nya.

Cek:

  • Sumber backlink utama.
  • Anchor text distribution.
  • Top linked pages.
  • Lost dan broken backlinks.
  • Relevansi sumber link.
  • Spam pattern.
  • Backlink menuju halaman 404.

Gabungkan backlink data collection dengan manual review untuk membantu memetakan high-quality links dan sumber backlink yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Tujuannya bukan menganggap semua backlink lama sebagai masalah.

Justru sebaliknya.

Kita perlu mengetahui backlink mana yang merupakan aset dan backlink mana yang tidak lagi memberikan value terhadap website.

Bagaimana Bisnis Kecil Bisa Bersaing dengan Website yang Backlink-nya Jauh Lebih Banyak?

Pertanyaan ini juga sering muncul saat konsultasi.

“Kompetitor saya mempunyai puluhan ribu backlink. Website saya baru punya ratusan. Masih bisa bersaing?”

Jawabannya: masih mungkin.

Karena jumlah backlink bukan satu-satunya variabel.

Kita perlu melihat:

  • Halaman mana yang menerima backlink.
  • Keyword mana yang ditargetkan.
  • Seberapa bagus search intent halaman tersebut.
  • Seberapa kuat topical coverage website.
  • Bagaimana internal linking-nya.
  • Kualitas dan relevansi referring domains.
  • Technical SEO.
  • Kualitas commercial page.

Kompetitor mempunyai 100.000 backlink bukan berarti Anda harus membeli 100.001 backlink.

Kita perlu mencari gap.

Mungkin competitor kuat secara link quantity tetapi halaman target mereka tidak menjawab search intent dengan lengkap.

Mungkin mereka mempunyai banyak backlinks ke homepage tetapi sedikit contextual link menuju commercial page.

Mungkin topical coverage mereka masih lemah.

Di situlah strategi bisa bermain.

Jadi, Contextual Link Building yang Bagus Seperti Apa?

Kalau saya ringkas, contextual link building yang bagus bukan sekadar membeli placement lalu selesai.

Ada beberapa layer yang perlu diperhatikan.

  1. Pilih source yang sesuai. Lihat metric, organic visibility, niche, kualitas content, dan relevansi audience.
  2. Pilih topik artikel yang masuk akal. Jangan memaksa bisnis masuk ke pembahasan yang tidak berhubungan.
  3. Gunakan anchor text secara natural. Sesuaikan dengan konteks kalimat dan halaman target.
  4. Arahkan backlink ke halaman yang tepat. Tidak semua backlink harus masuk ke homepage.
  5. Perhatikan internal linking. Distribusikan authority dari halaman yang menerima backlink ke halaman lain yang relevan.
  6. Bangun link profile yang beragam. Contextual backlink bisa dikombinasikan dengan brand mention, media placement, citation, profile, dan jenis link lain sesuai kebutuhan.
  7. Audit secara berkala. Pantau new links, lost links, anchor distribution, dan halaman yang paling banyak menerima backlinks.

Dengan pendekatan seperti ini, link building menjadi jauh lebih terstruktur.

Bukan hanya:

“Bulan ini kita beli berapa backlink?”

Tapi berubah menjadi:

“Backlink apa yang dibutuhkan website ini, dari source seperti apa, menuju halaman mana, dan apa fungsi link tersebut di dalam campaign?”

Menurut saya, pertanyaan kedua jauh lebih penting.

Butuh Strategi SEO dan Link Building yang Lebih Terstruktur?

Kalau Anda hanya membutuhkan content placement, Anda dapat mengeksplor pilihan media nasional dan guest post berkualitas di Omni Authority.

Jika kebutuhan Anda adalah diversity links untuk memperkuat struktur campaign, Anda dapat melihat Hero SEO.

Untuk bisnis lokal yang membutuhkan business directory listings dan NAP consistency, tersedia Omni Citation.

Sementara jika website Anda sudah mempunyai history backlink yang panjang dan ingin mengetahui kondisinya terlebih dahulu, Anda dapat mulai dari Omni Link Detox.

Dan jika Anda membutuhkan strategi yang lebih menyeluruh, mulai dari technical SEO, on-page, content, internal linking, off-page SEO, sampai monitoring ranking dan traffic, Anda dapat menggunakan jasa SEO full managed OmniRank.

Bangun setiap link karena link tersebut mempunyai fungsi yang jelas di dalam strategi SEO Anda.

0 Komentar