Halo Omnirankers!
Tidak terasa kita sudah tiba di akhir Januari, maka sudah saatnya kita recap hal-hal penting apa saja yang telah terjadi selama bulan Januari 2026 di dunia SEO.
Jangan lewatkan SEO Recap Januari 2026 ini untuk membantu Anda selalu menjadi yang terupdate di bidang SEO.
Summary
- Google December 2025 Core Update Selesai: Update algoritma Google resmi selesai di tanggal 29 Desember 2025, namun volatilitas ranking (post-update tremor) masih ada terasa sedikit hingga pertengahan Januari, meskipun tidak sebesar saat announcement update, ini merupakan fase finishing dari update.
- Mengenal Universal Commerce Protocol (UCP): Google merilis standar protokol baru untuk memfasilitasi “Agentic Commerce”, di mana agen AI dapat berbelanja otomatis. Ini menggeser fokus SEO e-commerce dari visual ke Technical Structured Data.
- Google AI Overview untuk Topik Kesehatan Belum Sempurna: Hasil laporan dari media luar negeri mengungkapkan Google AI Overview belum memberikan saran medis yang aman, memicu penarikan fitur dari Google dan menekankan kembali prioritas Google terkait konten manusia yang perlu authority (E-E-A-T).
- Gugatan Google terhadap SerpApi (pengaruh ke tool SEO pihak ketiga): Langkah hukum Google kepada penyedia data scraping yang berpotensi membatasi akses data atau meningkatkan biaya bagi tools SEO pihak ketiga di masa depan.
- Pergeseran Tampilan Local Pack (Masih Beta, belum terdampak ke seluruh pengguna): Terdapat perubahan tampilan Local Pack oleh tampilan ringkasan AI (AI Overview), sehingga diperlukan strategi SEO lokal yang lebih adaptif.
Google December 2025 Core Update & Volatilitas Januari

Meskipun status di dashboard Google sudah menunjukkan “The rollout was complete as of December 29, 2025.”, namun fluktuatif ranking minor masih terjadi hingga pertengahan Januari.
Dimulai tanggal 15 Januari 2026, berbagai SERP Trackers seperti SEMrush Sensor menunjukkan grafik yang terjadi volatilitas di ranking.

Kenapa ini bisa terjadi? Ini disebut sebagai fenomena post-update tremor.
Ini adalah adjustment algoritma secara “diam-diam” atau unconfirmed tweak yang dilakukan Google untuk menyempurnakan hasil dari Core Update.
Google umumnya melakukan seleksi ulang pada situs-situs yang lolos dari core update, tapi kualitasnya masih “tanggung” (istilahnya borderline).
-
Penalti untuk Situs “Clickbait”: Situs yang mendapatkan trafik tinggi tapi pengunjungnya langsung meninggalkan halaman (high bounce rate) kini terkena imbasnya. Penyebab utamanya biasanya karena isi konten yang tidak sesuai dengan judul, sehingga memicu penurunan peringkat yang drastis di pertengahan Januari ini.
-
Algoritma Google semakin mengerti dalam menilai kualitas suatu konten. SEO onpage tetap penting, namun Google juga memprioritaskan signal interaksi pengunjung website (real user engagement) sebagai tolak ukur utama.
Detail pemberitahuan: Google Search Status
Universal Commerce Protocol (UCP): Cara Baru Jualan di Era Agentic AI

Google baru saja merilis aturan main baru yang bakal mengubah total cara kita jualan online. Namanya Universal Commerce Protocol (UCP).
Apa Maksudnya? Simplenya begini:
-
Cara Lama: Pembeli adalah Manusia. Mereka buka website Anda, lihat foto produk, baca deskripsi, lalu klik beli.
-
Cara Baru (Masa Depan): Pembeli adalah Agentic AI. Manusia tinggal bilang ke asisten AI di HP-nya: “Cariin sepatu lari warna merah, ukuran 42, yang harganya di bawah sejuta.” Nah, si Agentic AI inilah yang akan “keliling” di internet, mengecek semua toko online, membandingkan harga, dan memilihkan produk terbaik buat penggunanya.
Lalu, apa masalahnya buat kita? Masalahnya satu: Agentic AI membaca koding, bukan dengan mata.
Agentic AI tidak peduli seberapa bagus desain website Anda. Dia tidak melihat banner promosi yang eye-catching atau foto produk yang estetik. Yang dia lihat cuma satu: Data.
Kalau data toko online Anda berantakan, Robot atau Agentic AI akan bingung.
Misal: Di website tertulis “Stok Ada”, tapi di data sistem (coding) tidak jelas jumlahnya. Agentic AI akan menganggap produk berstatus “Barang Habis” atau malah dianggap tutup.
Akibatnya? Produk Anda tidak akan pernah ditawarkan ke calon pembeli tadi. Jadinya adalah loss opportunity.
Apa yang Harus Dilakukan?
1. Submit produk e-commerce Anda ke Google Merchant Center
Anggap ini sebagai etalase khusus buat robot atau agentic AI. Pastikan semua info produk di sini 100% akurat. Jangan sampai harganya beda dengan yang ada di website.
2. Buat Schema Markup Product
Lengkapi data produk Anda sedetail mungkin di schema product. Kasih tahu ke robot hal-hal spesifik lewat kode schema, seperti Sisa stok tinggal berapa? Ongkos kirimnya berapa? Bisa dikembalikan (retur) atau tidak?
Semakin lengkap dan rapi data yang Anda sediakan ke robot, semakin sering produk Anda direkomendasikan oleh AI ke calon pembeli.
Inilah yang kita lakukan ke website client kami yang berbentuk e-commerce sehingga ranking di Google Shopping dan muncul di AI Platform seperti ChatGPT dan Google Gemini.
Detail berita: Blog Google, Google Developer
Google AI Overview Belum Akurat di Topik Kesehatan: Artikel Tulisan Manusia Semakin Berharga

Awal tahun 2026 dibuka dengan kejadian yang cukup memalukan bagi AI milik Google. Kejadian ini menjadi bukti real kalau secanggih-canggihnya robot atau AI, mereka belum siap menggantikan manusia terutama yang terkait dengan kesehatan apalagi nyawa.
Apa yang Sebenarnya Terjadi? Pada tanggal 2 Januari 2026, media Inggris The Guardian merilis hasil investigasi. Mereka menemukan kalau fitur AI Overview memberikan saran kesehatan yang salah dan berbahaya.
Ada pengguna yang bertanya tentang penanganan penyakit serius. Yang mana seharusnya menyarankan berkonsultasi ke dokter, si AI justru memberikan tips “pengobatan rumahan” yang justru dilarang oleh dunia medis. Jawaban AI Overview ini tidak bermaksud jahat, dia hanya “salah baca” data dari internet yang belum tentu benar dan belum tentu valid.
Setelah berita ini viral, Google langsung panik. Akhirnya, Google mematikan fitur jawaban AI untuk banyak topik sensitif di bidang kesehatan.
Kejadian ini menegaskan satu aturan main baru: Google tidak percaya sama hasil jawaban AI untuk pembahasan terkait “Kesehatan, Nyawa dan Isi Dompet” (YMYL – Your Money Your Life).
Google sadar, jika ada orang cari info soal Penyakit, Obat, Hukum, atau Investasi Keuangan, jawaban yang salah berpotensi membuat orang celaka atau bangkrut.
Google sekarang “membuang” konten-konten buatan AI di topik ini dan mencari konten buatan Pakar Asli.
Apa yang Harus Anda Lakukan?
Kalau website Anda membahas topik kesehatan, keuangan, atau hukum, ini adalah kesempatan untuk lebih unggul dari kompetitor.
- Jangan Pakai “Ghost Writer”: Jangan lagi posting artikel kesehatan dengan nama penulis “Admin”. Itu tidak laku.
Tampilkan nama asli, foto wajah, dan gelar penulisnya. Kalau artikel medis, pastikan yang nulis atau minimal mereview adalah dokter atau tenaga medis berlisensi. Tautkan ke profil LinkedIn mereka agar Google percaya tentang eksistensi reviewer dan writernya.
- Lengkapi pernyataan Anda dengan menyertakan Bukti.
Robot AI sering asal ngomong tanpa bukti. Tulisan manual manusia harus beda.
Saran: Setiap kali Anda menulis klaim (misal: “Obat X bisa menyembuhkan Y”), wajib cantumkan link sumbernya. Arahkan link ke jurnal kedokteran, situs rumah sakit resmi, atau website pemerintah (.gov). Ini sinyal buat Google kalau tulisan Anda bisa dipertanggungjawabkan.
- Ceritakan Pengalaman Real.
AI bisa merangkum teori, tapi AI tidak pernah sakit apalagi minum obat.
Sebagai saran, tambahkan sudut pandang atau POV pengalaman. Misalnya, “Kasus yang sering saya temui di klinik…” atau “Berdasarkan pengalaman saya menangani klien…”. Cerita pengalaman seperti ini adalah diferesiasi atau pembeda yang tidak dimiliki robot.
Detail berita: The Guardian, Search Engine Land
Konflik Google vs SerpApi: Dampak ke Tools SEO Pihak Ketiga

Poin ini penting untuk dibahas karena menyangkut kelangsungan aplikasi atau tools SEO yang biasa Anda gunakan sehari-hari untuk riset kata kunci dan memantau peringkat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi? (Masalah Legalitas Data) Baru-baru ini, Google mengambil langkah hukum dengan menggugat perusahaan bernama SerpApi.
SerpApi adalah perusahaan penyedia layanan data. Cara kerjanya adalah mengambil data hasil pencarian Google secara otomatis (scraping), lalu menjual data tersebut kepada developer aplikasi SEO lain. Banyak tools SEO populer di pasaran sebenarnya tidak memiliki data sendiri, melainkan membeli data dari penyedia seperti SerpApi ini.
Google menganggap praktik pengambilan data ini melanggar ketentuan layanan dan hak cipta mereka, sehingga mereka menuntut agar praktik ini dihentikan.
Dampaknya bagi pengguna tools SEO, jika Google memenangkan gugatan ini dan berhasil menutup akses SerpApi (atau penyedia serupa), dampaknya akan langsung terasa pada pengguna.
Data menjadi terbatas atau tidak akurat, aplikasi SEO pihak ketiga mungkin akan kesulitan mendapatkan data hasil pencarian yang terbaru (real-time). Akibatnya, data volume pencarian, daftar variasi keyword hingga posisi peringkat keyword yang mereka tampilkan mungkin menjadi kurang valid atau hanya berupa estimasi kasar.
Potensi kenaikan harga berlangganan, jika akses data pihak ketiga ditutup, penyedia tools harus mencari metode lain yang lebih rumit dan mahal untuk mendapatkan data. Biaya operasional tambahan ini kemungkinan besar akan dibebankan kepada pengguna dalam bentuk kenaikan harga langganan bulanan.
Solusi strategisnya adalah prioritaskan data resmi, Situasi ini mengingatkan kita untuk mengurangi ketergantungan berlebihan pada data dari pihak ketiga yang sifatnya hanyalah estimasi.
Langkah terbaik saat ini adalah memaksimalkan penggunaan Google Search Console (GSC).
-
Keamanan Data: Google Search Console adalah satu-satunya sumber data yang resmi, legal, dan diberikan langsung oleh Google kepada pemilik website tanpa perantara.
-
Akurasi: Berbeda dengan tools pihak ketiga yang mungkin mengalami gangguan akses data, data di GSC mencerminkan performa situs Anda yang sesungguhnya di mata Google. Menguasai cara analisis data GSC adalah kemampuan wajib sebagai langkah memitigasi risiko ini.
Detail berita: Search Engine World
Perubahan Tampilan Local Search: AI Overview Menggeser Posisi Local Pack (Masih beta, belum seluruh pengguna terdampak)

Hal ini penting bagi Anda yang memiliki bisnis dengan lokasi fisik, seperti klinik, bengkel, restoran, atau toko retail. Ada perubahan pada cara Google menampilkan hasil pencarian untuk Local Search di bulan Januari ini untuk sebagian pengguna (masih beta, belum seluruh pengguna terdampak)
Apa yang Berubah?
Biasanya, ketika seseorang mencari “bengkel terdekat” atau “dokter gigi terbaik” di Google, yang muncul paling atas adalah section map yang berisi daftar 3 bisnis dan biasanya ini disebut Local Pack.

Namun, update versi beta terbaru menunjukkan Google mulai mengubah tampilan ini.

Sekarang, Google bisa saja menampilkan AI Overview di posisi paling atas, menggeser posisi Local Pack ke bawah atau bahkan menggantikannya.
Pengguna kini tidak lagi langsung melihat peta dengan pin lokasi, melainkan disuguhi paragraf teks yang berisi rekomendasi bisnis dari AI.
Berikut adalah dua dampak bagi pemilik bisnis dari perubahan tampilan Local Pack menjadi AI Overview:
- Akses Kontak Menjadi Lebih Sulit: Pada tampilan Local Pack, pengguna bisa langsung melihat nomor telepon atau tombol “Directions”. Namun, pada tampilan AI Overview, data dan tombol instan ini seringkali tidak ditemukan. Pengguna harus melakukan klik tambahan untuk mencari nomor telepon Anda. Hal ini berpotensi mengurangi jumlah pelanggan yang menghubungi bisnis Anda secara langsung.
- Peluang Tampil Lebih Sedikit: Local Pack standar biasanya menampilkan 3 bisnis sekaligus. Sedangkan AI Overview seringkali hanya menyebutkan 1 atau 2 nama bisnis dalam kalimatnya. Persaingan untuk tampil di halaman depan menjadi semakin ketat.
Pro Tip:
- Optimasi agar Website Anda Ranking dan muncul di AI Overview
Optimasi agar website Anda minimal ranking di page 1-2 Google, untuk meningkatkan peluang Brand anda di mention di AI Overview. Panduan optimasinya sudah saya share dalam bentuk Ebook SEO checklist. - Tingkatkan Brand Mention di Website Lain (Link Building)
Sistem AI Google menentukan bisnis mana yang “terbaik” dengan cara membaca ulasan dan artikel di seluruh internet. Jika nama bisnis Anda hanya ada di Google Maps tetapi tidak pernah disebut di website lain, AI mungkin ragu sehingga tidak akan merekomendasikan Anda.
Submit bisnis Anda di direktori bisnis dan industri Anda (misalnya di Foursquare, Yellowpages, dan sebagainya). Link building dengan masukkan Brand keyword di judul dan sebagai anchor text. Semakin banyak website lain yang membicarakan bisnis Anda, semakin besar peluang AI merekomendasikan Anda. - Konsistensi Data
Pastikan NAP (Name, Address, Phone number) bisnis Anda tertulis sama persis di semua tempat (di Google Maps, di website sendiri, dan di media sosial). Data yang tidak konsisten akan membuat AI bingung dan ragu untuk merekomendasikan bisnis Anda.
Detail berita: Search Engine World
Update dari Microsoft & Apple: Optimasi untuk Jawaban AI (AEO) dan Integrasi Siri

Dua perusahaan teknologi besar yaitu Microsoft dan Apple melakukan pembaruan penting yang mempengaruhi bagaimana orang menemukan bisnis atau website Anda.
Microsoft
Microsoft baru saja merilis panduan tentang cara kerja AEO (Answer Engine Optimization) dan GEO (Generative Engine Optimization)
Apa bedanya?
- AEO: Optimasi konten agar muncul di answer box, voice search (misalnya Microsoft Copilot), dan FAQ (People also ask di Google).
- GEO: Optimasi agar website kita dikutip sebagai sumber terpercaya di AI generative engines, seperti ChatGPT, Gemini, Perplexity.

Apa yang Harus Anda Lakukan?
Microsoft menjelaskan kalau AI lebih suka konten yang “langsung pada intinya”.
-
Hindari Basa-basi: Konten yang bertele-tele atau paragraf yang terlalu panjang sulit dipahami oleh AI.
-
Gunakan Struktur Jelas: AI sangat menyukai artikel yang menggunakan Poin-poin (Bullet Points), Daftar Nomor (Numbering), atau Tabel. Jika konten Anda terstruktur rapi, peluang konten tersebut dikutip oleh AI menjadi jauh lebih besar.
Selain itu, bagi Anda yang beriklan di Microsoft, ada fitur baru untuk pelacakan iklan yang lebih detail. Ini membantu Anda melihat iklan mana yang paling efektif mendatangkan pembeli.
Apple & Google
Siri Jadi Lebih Pintar dengan Gemini.
Terdapat laporan bahwa Apple telah sepakat bekerja sama dengan Google. Intinya, asisten suara di iPhone (Siri) akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan milik Google (Gemini).

Ini berarti jangkauan teknologi Google akan meluas ke jutaan pengguna iPhone. Ketika pengguna iPhone bertanya sesuatu yang rumit kepada Siri, jawaban yang keluar kemungkinan besar diambil menggunakan teknologi Google Gemini.
Hal ini akan meningkatkan tren voice search.
-
Biasanya, pengguna mengetik di Google: “resep nasi goreng enak” (singkat).
-
Jika di Siri, pengguna bisa bicara ke Siri: “Siri, bagaimana cara membuat nasi goreng yang enak dan pedas?” (kalimat lengkap conversational style).
Jika artikel di website Anda ditulis dengan gaya bahasa yang ringkas, menjawab pertanyaan lengkap, dan enak dibaca (seperti percakapan manusia), konten dari website Anda punya peluang besar untuk menjadi sumber jawaban bagi pengguna iPhone.
Detail berita: Search Engine Journal, SE Round Table, SE Round Table

0 Komentar